Jurnal Pengabdian Pancasila (JPP) 2964-9358 Improving Reading Literacy Competencies among Madrasah Teachers: AKMI Training Using the LOK-R Approach at MIN 11 Hulu Sungai Selatan SulistyowatiHeny JayantiRani RinayuhaniTri Ratna SholikahAmilatus 29 04 2026 26 05 2026 27 06 2026 5 2 151 160 https://doi.org/10.55927/jpp.v5i2.11

This community service activity aims to improve the reading literacy competencies of madrasah teachers through training based on the Indonesian Madrasah Competency Assessment (AKMI) using the LOK-R approach (Literacy, Orientation, Collaboration, and Reflection). The activity was conducted online at MIN 11 Hulu Sungai Selatan using Zoom, Google Meet, and a WhatsApp group. The implementation method was participatory, consisting of four sessions: reinforcing reading literacy concepts, introducing AKMI, collaborative discussions, and learning reflection. Evaluations using pre-tests and post- tests showed a significant improvement in participants’ competencies. The percentage of participants in the basic category decreased from 65% to 15%, while those in the competent and skilled categories increased to 65% and 20%, respectively. Additionally, 85% of participants felt more confident in developing literacy-based teaching materials. This training was effective and is recommended for the continuous professional development of madrasah teachers.

Literacy Skills Training LOK-R Approach
PENDAHULUAN

Literasi membaca merupakan kompetensi fundamental yang tidak hanya berfungsi sebagai kemampuan dasar dalam memahami teks, tetapi juga sebagai landasan bagi pengembangan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, literasi membaca menjadi kunci bagi peserta didik dalam mengakses, mengolah, serta mengevaluasi informasi secara efektif (O.E.C.D., 2022). Dengan demikian, literasi tidak lagi dipahami sebatas aktivitas membaca, melainkan sebagai kemampuan kompleks yang berperan dalam membentuk kualitas pembelajaran dan kesiapan individu dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Meskipun demikian, capaian literasi membaca di Indonesia masih menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) menempatkan kemampuan literasi peserta didik Indonesia pada posisi di bawah rata-rata global. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya peningkatan literasi masih perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, terutama dalam konteks pendidikan formal (U.N.E.S.C.O., 2021). Rendahnya kemampuan literasi tidak hanya berdampak pada capaian akademik, tetapi juga berpengaruh terhadap kemampuan peserta didik dalam memahami informasi, mengambil keputusan, serta beradaptasi dalam kehidupan sosial. Dalam konteks tersebut, peran guru menjadi sangat penting sebagai fasilitator utama dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga berperan dalam mengembangkan kemampuan literasi peserta didik melalui strategi pembelajaran yang tepat. Namun, pada praktiknya, masih banyak guru yang belum sepenuhnya mampu mengintegrasikan literasi membaca dalam kegiatan pembelajaran. Hasil Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) menunjukkan bahwa sebagian guru madrasah masih membutuhkan penguatan dalam memahami konsep literasi membaca serta penerapannya secara kontekstual di kelas (Kementrian Agama, 2024)

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan merupakan salah satu strategi yang efektif dalam mengatasi permasalahan tersebut. Smith, (2020) menyatakan bahwa pelatihan berbasis literasi dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang lebih bermakna. Hal serupa juga disampaikan oleh Brown & Johnson, (2021) yang menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pelatihan untuk memperkuat pemahaman konseptual dan praktik pembelajaran. Selain itu, pendekatan reflektif terbukti mampu membantu guru dalam mengevaluasi serta memperbaiki praktik pembelajaran yang telah dilakukan (Hadi, 2020). Dengan demikian, pelatihan yang dirancang secara terstruktur, partisipatif, dan berorientasi pada praktik memiliki potensi besar dalam meningkatkan kompetensi guru.

Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu pendekatan pelatihan yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga melibatkan peserta secara aktif dalam proses pembelajaran. Pendekatan LOK-R (Literasi, Orientasi, Kolaborasi, dan Refleksi) menjadi salah satu model yang relevan karena mengintegrasikan pemahaman konsep, praktik, kerja sama, serta refleksi dalam satu rangkaian kegiatan. Pendekatan ini memungkinkan peserta untuk tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga mengaplikasikannya dalam konteks pembelajaran. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi literasi membaca guru madrasah melalui pelatihan berbasis AKMI dengan pendekatan LOK-R. Kegiatan ini dilaksanakan di MIN 11 Hulu Sungai Selatan sebagai upaya konkret dalam mendukung penguatan literasi di lingkungan madrasah. Diharapkan, melalui kegiatan ini, guru mampu mengembangkan pembelajaran berbasis literasi secara lebih efektif sehingga berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran.

PELAKSAAN DAN METODE

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di MIN 11 Hulu Sungai Selatan secara daring pada bulan Januari 2024. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam empat sesi pelatihan dengan total durasi sekitar enam jam. Setiap sesi dilaksanakan menggunakan platform yang berbeda, yaitu Zoom pada sesi literasi dan orientasi, WhatsApp Group pada sesi kolaborasi, serta Google Meet pada sesi refleksi, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing- masing kegiatan. Sasaran dalam kegiatan ini adalah guru MIN 11 Hulu Sungai Selatan. Guru dipilih sebagai sasaran utama karena memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan literasi membaca siswa melalui proses pembelajaran di kelas. Selain itu, guru yang terlibat dalam kegiatan ini masih membutuhkan penguatan dalam memahami konsep literasi membaca berbasis AKMI serta penerapannya dalam pembelajaran. Oleh karena itu, pelatihan ini diarahkan untuk membantu guru meningkatkan pemahaman, keterampilan, serta kesiapan dalam mengembangkan bahan ajar dan strategi pembelajaran berbasis literasi.

Tahap berikutnya adalah kolaborasi, di mana peserta melakukan diskusi kelompok untuk menganalisis teks dan menyusun bahan ajar berbasis literasi. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan kerja sama antar peserta. Tahap terakhir adalah refleksi, yaitu peserta melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah diikuti, serta menyampaikan pengalaman dan pemahaman yang diperoleh selama pelatihan. Dengan metode ini, pelatihan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada keterlibatan aktif peserta dalam proses belajar.

HASIL

Pelaksanaan kegiatan pelatihan dilakukan secara daring dengan memanfaatkan beberapa platform digital, yaitu Zoom, Google Meet, dan WhatsApp Group. Kegiatan ini dirancang dalam empat sesi yang disusun secara sistematis mengikuti tahapan dalam pendekatan LOK-R, sehingga peserta dapat mengikuti alur pembelajaran secara bertahap, mulai dari pemahaman konsep hingga refleksi hasil kegiatan. Pada sesi pertama, kegiatan diawali dengan penyampaian materi dasar mengenai literasi membaca melalui Zoom. Pada tahap ini, peserta diperkenalkan pada konsep literasi membaca yang tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca teks, tetapi juga pada kemampuan memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi informasi. Selain itu, peserta juga diajak untuk mendiskusikan pengalaman mereka dalam mengajar, khususnya terkait dengan penerapan literasi di kelas. Interaksi yang terjadi pada sesi ini cukup aktif, di mana beberapa peserta mulai mengemukakan kendala yang mereka hadapi, seperti kesulitan dalam memilih bahan bacaan yang sesuai dan terbatasnya strategi pembelajaran berbasis literasi.

Sesi kedua masih dilaksanakan melalui Zoom dengan fokus pada pengena

Kategori Kompetensi Pre-test Post-test
Dasar 65% 15%
Cakap 30% 65%
Terampil 5% 20%
PEMBAHASAN

Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan kompetensi literasi membaca peserta yang cukup signifikan, terutama terlihat dari pergeseran kategori kemampuan dari tingkat dasar ke tingkat cakap dan terampil. Peningkatan ini tidak terjadi secara kebetulan, tetapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, baik dari segi metode pelatihan, materi yang diberikan, maupun keterlibatan peserta selama kegiatan berlangsung.

Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan tersebut adalah penggunaan pendekatan LOK-R dalam pelatihan. Pendekatan ini memberikan alur pembelajaran yang sistematis, dimulai dari pemahaman konsep dasar hingga refleksi terhadap pengalaman belajar. Pada tahap literasi dan orientasi, peserta memperoleh pemahaman yang lebih terstruktur mengenai konsep literasi membaca dan penerapannya dalam konteks AKMI. Hal ini penting karena banyak guru sebelumnya belum memiliki pemahaman yang utuh mengenai literasi sebagai keterampilan yang melibatkan proses berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar membaca teks. Selanjutnya, pada tahap kolaborasi, peserta tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi dan praktik. Proses ini memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman antar peserta, sehingga mereka dapat saling belajar dari konteks pembelajaran yang berbeda. Temuan ini sejalan dengan penelitian Brown dan Johnson (2018) yang menyatakan bahwa pendekatan kolaboratif dalam pelatihan mampu meningkatkan pemahaman konseptual dan keterampilan praktis peserta. Melalui diskusi kelompok, peserta mulai mampu mengaitkan konsep literasi dengan praktik pembelajaran yang mereka lakukan sehari-hari.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Pelatihan literasi membaca berbasis AKMI dengan pendekatan LOK-R yang dilaksanakan di MIN 11 Hulu Sungai Selatan menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan kompetensi guru. Peningkatan ini terlihat dari perubahan tingkat pemahaman peserta, kemampuan dalam menyusun bahan ajar berbasis literasi, serta kepercayaan diri dalam menerapkan pembelajaran literasi di kelas. Pendekatan LOK-R yang mengintegrasikan tahap literasi, orientasi, kolaborasi, dan refleksi terbukti mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif dan bermakna bagi peserta. Selain itu, pemanfaatan media daring juga mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan meskipun terdapat beberapa kendala teknis. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya memberikan pemahaman konseptual, tetapi juga mendorong peserta untuk mengaplikasikan literasi dalam praktik pembelajaran. Oleh karena itu, kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya pengembangan profesional guru, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis literasi di madrasah.

Agama K. 2024 Modul tindak lanjut hasil Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) Brown J. Johnson P. 2021 Collaborative online learning for literacy development Literacy Today 12 2 45 56 Hadi S. 2020 Reflective approaches in teacher training Jurnal Pendidikan Guru 11 3 67 78 Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 2022 Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 Results Organisation for Economic Co-operation and Development Rahmat D. 2021 Technology integration in teacher training Jurnal Teknologi Pendidikan 14 1 33 49 Smith L. 2020 Enhancing literacy teaching through online programs Journal of Educational Research 10 1 22 30 United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) 2021 Literacy for All: A Global Perspective United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization